Cari Tahu Dengan Hati…

Posted in Dariku - Untukmu on June 19, 2009 by Yazid

Dulu, ketika saya mengantarkan umi pergi ke rumah seseorang. Ketika di dalam perjalanan, saya melihat sebuah pohon yang belum pernah saya lihat. Pohon itu berdaun seperti daun mangga. Buahnya juga seperti buah mangga. Tetapi warnanya seperti buah apel, merah. Saya membayangkan lezatnya rasa buah itu. Saya berniat nanti akan memetiknya.

Tibalah waktunya saya menjemput umi saya pulang. Ketika saya melewati buah ‘mangga-apel’ itu, tanpa pikir panjang saya pun memetiknya. Tak lama kemudian saya pun mulai menggigit buah itu, dan memang rasanya manis seperti apel.

Ketika buah ‘apel-mangga’ itu tinggal setengah, tiba-tiba saya berhenti. Mungkin hati nurani saya yang memerintahkan saya untuk berhenti memakan buah itu. Sejenak saya diberikan beberapa pertanyaan. Bukankah buah beserta pohonnya ada yang memiliki? Bukankah bila saya memakan buah ini saya harus meminta kehalalan dari si empunya? Kalau saya telah memakan sebagiannya, bukankah itu berarti saya memakan barang yang haram?

Ketika pertanyaan itu berkecamuk dalam hati saya, saya membayangkan bahwa perut saya akan merasa sakit terus-menerus, lalu tenggorokan saya akan sakit sehingga saya tidak bisa lagi untuk menelan makanan. Semuanya karena si empunya pohon buah tadi tidak memberikan kehalalan buah yang sudah saya makan.

Bayang-bayang kejadian buruk yang akan menimpa diri saya itu terus saja menghantui. Saya tidak memperhatikan lagi ke mana sisa buah yang tinggal setengah bagian itu. Hati saya bergejolak dan tubuh saya meronta keras karena tidak mau menerima semuanya. Padahal semua itu adalah akibat dari perbuatan saya sendiri yang ceroboh.

Setelah beberapa lama mengalami hal itu, tiba-tiba mata saya terbuka. Saya mendapati diri saya terbaring di atas tempat tidur saya. “Alhamdulillah,” itu lah yang secara sadar atau tidak sadar saya ucapkan. Ternyata hanya mimpi.

Bila saya mengingat mimpi itu saya jadi tersenyum. Kenapa dalam mimpi itu saya tidak berpikir untuk datang dan meminta kehalalan buah yang telah saya makan kepada si empunya seperti kisah teladan yang pernah saya baca. Siapa tahu dengan perbuatan itu, saya akan diperintahkan bekerja kepadanya beberapa bulan dan kemudian saya dijodohkan dengan putrinya yang cantik. Weleh…weleh……

Ternyata dalam mimpi itu, ketika berhadapan dengan kejadian tersebut, pikiran saya tidak berfungsi, atau mungkin dikalahkan dengan hati nurani saya. Seandainya hati nurani saya bisa berperan terus sebagai kendali setiap perbuatan saya. Bukankah hati itu bisa dimintakan fatwa mengenai baik atau buruknya suatu perbuatan?

Kira-kira setahun yang lalu, salah seorang teman saya bercerita tentang musibah yang menimpanya. Tanpa kesengajaan, dia telah menghilangkan sejumlah uang yang diamanahkan kepadanya. Lalu dia bertanya kepada saya, “Di laciku ada uang ‘enggak jelas’, apa boleh aku pakai uang itu untuk mengganti uang yang hilang. Nanti aku akan ganti dengan uang sendiri. Gimana?”

“Uang itu jangan digunakan untuk kepentingan pribadi. Kalau memang perlu segera, saya baru saja dapat rezeki, walaupun tidak banyak. Saya bisa pinjamkan, gimana?” begitu jawab saya, entah saat itu hati saya atau pikiran saya yang lebih kuat perannya. Tapi di sisi lain, saya membayangkan bila saya yang berada dalam posisinya, mungkin saya akan menggunakan uang itu dulu. Tapi untunglah saya tidak berada dalam posisinya dan saya memberikan jawaban yang terbaik yang saya punya.

Ketika saya mengetik tulisan ini, saya teringat pendapat teman saya, bahwa untuk menanyakan jawaban ke hati juga harus diperlukan ilmu. Pendapat teman saya itu mungkin ada benarnya, karena dengan ilmu akan menambah tingkat keyakinan akan jawaban yang diperoleh.

Dulu, di kantor sekolah tempat saya mengajar, ada istilah “Sabtu ceria”, di mana setiap hari sabtu kami akan mendapatkan sejumlah uang di luar dari gaji dan tunjangan yang saya terima. Asal-muasal dari mana sumber uang itu belumlah saya ketahui. Hingga suatu saat, saya diundang dalam sebuah rapat yang salah satu pembahasannya adalah pengelolaan dana yang diperoleh dari sumber selain gaji dan tunjangan. Dari situlah semuanya berasal, uang yang kami terima di “sabtu ceria”, bahkan untuk sekedar air minumdan jajanan ketika isrirahat, biayanya yang dikeluarkan dari sumber itu juga.

Alhamdulillah, sekarang tak lagi saya jumpai “sabtu ceria” dan untuk membeli air minum serta jajanan, saya dan teman-teman patungan setiap bulan setelah menerima gaji. Sekali lagi Alhamdulillah……

Wallahu a’lam bishshowab.

Arti Perbedaan

Posted in Dariku - Untukmu on June 19, 2009 by Yazid

Bila saya bercermin, maka saya berkeyakinan bahwa orang yang benar-benar menyerupai saya adalah orang yang berada di balik cermin tersebut. Orang itu memiliki apa yang saya miliki. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lebih dari itu warna dan bentuknya disetiap bagian tubuh saya sama dengan yang dia miliki. Bahkan ketika saya memakai pakaian, bentuk dan warna pakaian yang saya kenakan juga sama dengan yang dia kenakan.

Tetapi saya tidak hanya hidup di dalam sebuah kamar. Saya juga tidak hanya berinteraksi dengan bayangan saya di dalam cermin. Karena begitu keluar, akan saya temukan banyak orang-orang yang jauh berbeda dengan saya. Mulai dari jenis kelamin, usia, bentuk tubuh dan anggotanya, tinggi dan berat badan, warna kulit, warna dan bentuk ranmbut, pekerjaan, pendidikan, latar belakang budaya, pola pikir, karakter, serta entah apa lagi perbedaan yang ada. Rasanya saya tidak bisa menyebutkan semua perbedaan tersebut.

Namun demikian, di antara perbedaan yang ada, tentu saja ada kesamaan yang juga dimiliki saya dengan orang-orang di sekitar saya, juga dengan orang-orang yang berinteraksi dengan saya. Sebagai contoh, di ruangan kerja saya, ada kesamaan di antara orang-orangnya, kesamaan dalam hal tujuan yang akan diraih bersama, kesamaan bahwa kami bekerja di bawah departemen yang sama, kesamaan bahwa kami pernah mengikuti sebuah diklat yang sama, dan kesamaan-kesamaan lainnya.

Lantas apa ada yang salah dengan perbedaan tersebut? Bukankah Allah jua yang menciptakan manusia itu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, lengkap dengan aneka perbedaannya?

Mungkin Anda pernah melihat sebuah pemandangan di gunung, di danau, di pantai atau tempat wisata lainnya, baik secara langsung mauapun melalui layar kaca. Anda bisa menyaksikan bahwa keindahan itu terjadi karena sekian banyak flora dan fauna yang ada. Sekian jenis flora dan fauna itu, dengan berbagai jenis, bentuk dan ukuran, membentuk suatu ekosistem yang indah. Kalau saja, setiap jenis flora dan fauna itu dipisahkan pada tempat yang berbeda-beda, mungkin saja nilai keindahannya akan berkurang, atau bahkan tak akan lagi menyimpan keindahan.

Pelangi. Fenomena alam yang akan dapat kita lihat tatkala hujan mulai reda. Indah bukan? Saya berpikir bahwa keindahan pelangi itu karena adanya warna-warna yang berbeda yang mau berdampingan satu sama lain. Bila saja hanya ada satu warna yang ada, tidak akan indah, dan namanya tentu saja bukan pelangi lagi. Entah apa namanya, saya pun tidak tahu.

Dari sekian banyak perbedaan tentu saja akan ada persamaan. Sayangnya kita sering terlalu membesar-besarkan pebedaan yang kecil. Mungkin karena sekarang sudah ada alat yang canggih, seperti mikroskop yang mampu melihat benda-benda renik terlihat besar, maka kita juga ikut-ikutan latah. Lantas kita melihat perbedaan yang kecil itu dengan sebuah miksroskop, terlihatlah perbedaan itu berukuran raksasa, dan pada akhirnya perbedaan itu terus-menerus dipersoalkan dengan mengesampingkan berbagai kesamaan yang memang sudah jelas di depan mata.

Perbedaan itu merupakan suatu keniscayaan
Dari ’sananya’ ia dilahirkan
Semuanya tergantung cara kita memberikan pandangan
Bila ia sebagai suatu masalah, maka ia takan pernah terpecahkan
Bila ia sebagai suatu anugerah, maka niscaya ia hadir dalam keindahan

Wallahu a’lam.

Menembus Langit?

Posted in Dariku - Untukmu on June 19, 2009 by Yazid

Dulu saya punya keinginan untuk membuat dan memiliki web site sendiri. Di situ saya akan berusaha untuk ‘berkreasi’ semampu saya dengan pengetahuan yang saya miliki. Tetaapi karena tidak ada pendukung, keinginan tersebut tidak pernah tercapai.

Pada suatu saat, ada seorang teman yang memiliki sebuah software yang bisa membentuk file help. Saya pun memintanya untuk mengajari saya bagaimana cara menggunakannya. Ternyata tidak begitu sulit, karena yang perlu dilakukan hanya mengklik tombol-tombol yang ada pada program tersebut. Akhirnya saya bisa menjalankan software tersebut, walalupun masih bersifat standar, karena masih banyak feature-feature dalam software tersebut yang belum saya mengerti.

Dan suatu hari, muncul sebuah ide untuk mengumpulkan artikel-artikel yang saya temukan di internet kemudian disatukan dengan software tersebut. Dalam pikiran saya toh hasilnya nanti akan mirip sebuah website, walaupun tidak seperti web site sebenarnya, karena software tersebut tidak interaktif dan tidak bisa diupdate. Namu meski demikian akhirnya teman saya menyarankan agar saya mengumpulkan tulisan-tulisan saya dalam sebuah blog.

Alahmdulillah, sudah banyak artikel yang saya kumpulkan ke dalam ‘Hanif Salsabila’ yang sampai saat ini sudah mencapai artikel yang ke-empat puluh delapan.

Suatu hari, dalam suatu obrolan di ruang chating sebuah situs pertemanan, ada seorang teman yang memberikan pujian dan doa. “Artikelnya cakep-cakep. Seminggu belum kelar bacanya, banyak banget. Semakin banyak amal antum, mengalir terus.” Begitulah kira-kira ucapannya yang langsung saya amini.

Siapapun orangnya, pasti menginginkan amal yang dilakukan bisa bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, serta mendapat balasan dari Allah SWT dengan mendapat pahala dan ridha-Nya. Siapapun orangnya, pasti mengharapkan limpahan pahala yang tiada henti-hentinya di dunia ini lebih-lebih lagi bila si pelaku telah meninggal dunia.

Sepulang dari kampus sore harinya, secara tak sengaja saya melihat sebuah sinetron disebuah televisi yang mengisahkan tentang amalan beberapa orang yang tidak bisa menembus lapisan-lapisan langit karena berbagai kekurangan yang dimilki masing-masing orang tersebut.

Amalan masing-masing orang tertolak karena mereka memiliki sifat-sifat buruk pada diri mereka, seperti suka mengumpat di balik setiap amalannya, hanya mengharapkan pujian dan dunia semata, sombong (takabbur), rasa bangga terhadap kehebatan diri dan meremehkan orang lain )’ujub), dengki (hasad) yang tidak senang jika orang lain lebih baik dari dirinya, serta riya tanpa keikhlasan karena Allah semata ketika beribadah.

Lantas, jika demikian banyaknya sifat-sifat tercela yang dimilki manusia, termasuk yang mengumpulkan Hanif Salsabila, apa bisa menembus langit?

–oo0oo–

Robbanaa zholamnaa anfusanaa wa in lam taghfirlanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khoosiriin.

Menemukan Cermin

Posted in Dariku - Untukmu on March 4, 2009 by Yazid

Surakarta, Desember 1787. Pamflet gelap menempel di tempat penyimpanan gamelan milik keraton. Isinya, sebuah gugatan untuk Pakubuwono III yang dituduh menyimpang. Raja Surakarta itu memang akrab dengan kolonial Belanda yang memeras tenaga rakyat, habis-habisan. “Mestikah orang-orang Eropa (dianggap) lebih kuat daripada Allah?” Surakarta sontak geger mencari-cari si pemasang pamflet. Tak tersedia petunjuk kecuali sebuah nama yang menyebut dirinya sebagai Susuhunan Ayunjaya Adimurti Senapati Ingulaga.

Pada waktu itu, tentu belum ada Jamaah Islam, Al Qaeda, Hamas, ataupun Jihad Islam. Tapi, kecurigaan aparatur asal Eropa sudah sejak lama dialamatkan pada Islam. Walhasil, seorang kyai ditangkap. Namanya, Kyai Alim Demak. Kyai yang buta huruf latin itu diseret jadi terdakwa. Sayang, belum ada presumption of innocence masa itu. Ia dihukum sebelum sempat diadili. Kyai Alim Demak disiksa hingga tewas. Kulitnya dikelupas selapis demi selapis. Tepat di bawah parasnya, pamflet yang menggemparkan itu, dibakar.

***

Raja Mataram putera Sultan Agung, Amangkurat I, murka sejadi-jadinya. Ada pembisik mengabarkan, ribuan ulama di wilayah kekuasaannya bersimpati pada Pangeran Alit yang tengah memberontak. Akarnya? Raja Mataram itu kerap mengorbankan rakyat demi kepentingan Belanda. Maka, bila Babad Tanah Jawi bisa dipercaya, 6000 orang –terdiri atas para ulama dan keluarganya– yang menjadi tersangka, dikumpulkan di alun-alun. Tanpa beban, dalam tempo kurang dari setengah jam semuanya tersungkur menjadi mayat tanpa kepala. Amangkurat I memerintahkan penyembelihan massal.

Pemberontakan, tokoh, terus berlanjut. Kali itu di bawah pimpinan Pangeran Trunojoyo, asal Madura. Amangkurat I akhirnya tumbang, dan anaknya, Amangkurat II, diserahi Trunojoyo untuk melanjutkan kekuasaan ayahnya. Tapi, tak lama setelahnya, ketika para bupati diundang dan dikumpulkan di balairung kerajaan. Di hadapan mereka disuguhkan adegan mengerikan. Amangkurat II menikam Pangeran Trunojoyo, lantas membelah perut dan mengambil hatinya. Setelah dicincang, ia bagi-bagi pada para bupati untuk ditelan mentah-mentah. Menguji loyalitas.

***

Lelaki kurus itu hidup di Kota Kufah, akhir abad ke-7. Tak banyak yang tahu kalau dia yang kali pertama menemukan cara membuat ubin lantai di masa itu. Sebagai saudagar, ia dikenal praktis, meski tidak terperangkap jadi pragmatis. Sepenjuru kota tahu, dialah yang mengogahi kompromi, sekalipun untuk sesuatu yang menguntungkan dirinya. Tak banyak cakap, namun dikenal bijak beragumentasi –pandai menjaga perasaan mitra diskusi. Dan ia, juga seorang ulama ternama. Dialah Abu Hanifah, dikenal sebagai Imam Hanafi, salah satu pendiri mazhab fiqh Islam.

Adakah ia seorang cerdas? Lebih dari itu, boleh jadi ia orang yang paling berhati-hati menjaga diri dari syubhat, apalagi yang haram. Ia keras terhadap diri sendiri. Suatu hari, telah tiba beberapa ekor domba hasil rampasan yang tercampur dengan ternak milik penduduk Kufah. Berita lekas menyebar dan sampai ke telinga Abu Hanifah. Sontak ia mencari tahu, “Berapa tahun biasanya umur seekor domba?” Seorang penggembala menjawab, “Tujuh tahun!” Lantaran itu, selama tujuh tahun ia mengharamkan daging domba masuk ke lambungnya.

Suatu kali, 10.000 dirham dikirimkan Khalifah Ja’far al Manshur sebagai hadiah. Lelaki itu hanya berucap pendek, “Taruh saja di sudut rumah.” Hingga kematiannya, ia tak pernah sentuh. Sepeninggalnya, ia mewasiatkan puteranya untuk mengembalikan uang itu pada Baitul Maal.

Puncak penolakan Abu Hanifah akhirnya tak terelakkan saat sang khalifah menunjuknya sebagai hakim agung (qadhi al qudha). Ia menolak, karena kekuasaan yang telanjur dianggapnya terlalu banyak distorsi yang kelewatan. Khalifah yang tak terima alasan itu mengirim Abu Hanifah ke bui. Di sana ia dipukul dan dicambuk. Punggungnya menebal beberapa senti, kapalan ternyata, akibat cemeti yang menyabetnya nyaris setiap hari.

Masih di dalam penjara, Khalifah Ja’far menjenguknya. Ia masih membujuk Abu Hanifah untuk menerima tawaran sebagai hakim agung –sekaligus menghadiahi uang dalam jumlah yang lebih besar, 30.000 dirham. Abu Hanifah singkat bertutur, “Apakah kekhalifahan masih memiliki uang yang halal?” Wajah Ja’far al Manshur memucat. Malu, juga marah. Hingga kematiannya, Abu Hanifah tetap hidup dalam penjara, bersama siksa yang tak kunjung reda. Lehernya, sejak itu, dikalungi rantai seorang pesakitan.

Adakah Abu Hanifah keras kepala? Atau, hatinya memang sekeras batu?

Sepertinya, sih, tidak. Semua orang tahu, ia keras terhadap diri sendiri, namun ringan memberi fatwa bagi para pengikutnya. Ia lembut bersuara, sekaligus merangsang lawan bicara untuk membantahnya.

“Demikianlah pendapat Abu Hanifah, dan ini yang sebaik-baiknya sepanjang pengetahuan kami. Bila datang keterangan yang lebih baik, dialah yang lebih utama diikuti.”

Maka, terkenanglah kini seorang ulama yang meneguhi kemerdekaan berpikir –sebuah kemerdekaan yang mampu mengatasi 2 pertarungan besar. Pertama, kemerdekaan yang mampu membebaskan diri dari rasa takut, bersikap tegas atas rayuan –ataupun ancaman– kekuasaan despotik. Kedua, kemerdekaan yang membebaskan diri dari sikap “tahu segala hal” dan merasa paling benar sendiri.

Seolah meneguhkan, Rumi pun bertanya retoris berbilang abad kemudian, “Tak tahukah engkau, ada banyak jalan menuju Ka’bah?”

***

Sejarah di suatu masa memang kerap berpihak pada kelompok yang paling bising menyuarakan agitasi dan propaganda: kasta yang memerintah. Sejarah bisa jadi timpang. Tapi sejarah pula akhirnya yang menyuguhkan pengajaran: manipulasi dan kebohongan dalam sejarah yang dikendalikan kekuasaan, memiliki durasi waktu yang tak abadi. Kebenaran, tak mungkin berselingkuh, bahkan dalam diamnya sekalipun.

Suatu generasi mesti punya amunisi keberanian yang cukup untuk berdialog dengan masa silam secara jujur. Tak cukup hanya untuk dikenang, melainkan mencari titik-titik progresi kebenaran untuk diteruskan. Keberanian sejenis itu mjenghadirkan cermin pembanding yang luas untuk sebuah pertanyaan bagi hari ini: kemajuan, atau justru kemerosotan?

Memang, terkadang banyak orang yang tak siap memperdengarkan suara dari sesuatu yang lampau. Tapi ada keharusan, karena di pelataran-Nya kita tak mempertanggungjawabkan dosa secara massal. Melainkan, “Kamu akan datang kepada Kami satu-satu, seperti Kami ciptakan kamu, dahulu.” (Surah Al-An’aam: 94)

Belajar menghisab diri lewat pengakuan dosa dalam cara yang paling telanjang, setidaknya, membantu menghadirkan ingatan. Tentang Hari Pengadilan yang niscaya datang, entah kapan. Dan masa silam, membantu kita melakukan semacam komparasi: kemajuan, atau justru kemerosotan, yang telah kita kerjakan?

Karena hidup, mestinya bukan gelanggang manifestasi dari berbagai penyangkalan. Melainkan sebuah penerimaan atas otokritik yang tidak berbalut dusta. Pada hari ini sewajarnya ada kelebihan dibanding kemarin. Dan esok, sepatutnya lebih sempurna dari waktu sekarang. Bila tidak, merugi dan celakah manusia. Demikian Kekasih Muhammad SAW, mendambakan.

Allah Jugakah Yang Menakdirkan Dosa?

Posted in Islamic Section on March 4, 2009 by Yazid

Ada sebuah wacana menarik ketika seorang anak muda melontarkan pertanyaan kepada seorang Ustadz.

“Ustadz, Allah jugakah yang mentakdirkan manusia dosa ?”, tanya pemuda itu membuka percakapan.

“Manusia itu sudah diberi akal untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang berpahala dan mana yang dosa. Jadi manusia itulah pada hakekatnya yang mendhalimi dirinya sendiri, sehingga dia terjerumus dalam dosa”, jawab sang ustadz dengan senyum ramah di bibirnya.

“Jadi, kuncinya pada akal manusia ?”.

“Ya, justru itulah yang membedakan manusia dengan hewan atau makhluk lain”.

“Lalu, siapa yang menggerakkan akal sehingga dia bisa memilih jalan surga atau neraka ?”, anak muda itu terus mengejar dengan pertanyaan.

“Faktor utama kualitas output itu ditentukan oleh kualitas input. Itulah hukum dasar produksi; yang juga berlaku untuk akal kita. Analoginya, kalau bahannya cuma semen, pasir dan air, mustahil bagi kita untuk membuat ubin marmer. Ubin marmer inputnya ya marmer. Artinya, agar otak kita memutuskan jalan sorga, inputnya harus amal kebaikan. Misalnya pengajian, tartil Qur’an, majelis taklim, teman sholeh/sholekhah dan segala tuntunan Qur’an – Hadist.”

“Siapa yang menggerakkan hati sehingga mampu memilih input dengan kualitas surga ?”

“Allahlah Sang Muqollibal Qulub (Pembolak Balik Hati)”, jawab Sang Ustadz dengan mantap.

“Jadi artinya Allah penentu “input surga” sebagai konsumsi otak manusia sehingga dia mampu memilih jalan ke surga. Allah juga penentu “input neraka” sebagai konsumsi otak manusia sehingga dia memilih jalan dosa. Bisakah saya menyimpulkan bahwa Allah juga yang menentukan manusia dosa ?”,

Si anak muda tadi berusaha menyimpulkan dari obrolan dengan sang ustadz.

Sang ustadz hanya tersenyum dengan kerut didahinya. Ia lalu mengatakan, “Demi Allah; tidak ada selembar daun keringpun yang jatuh tanpa izin-Nya. Tidak ada setetes darahpun yang mengalir dalam tubuh ini tanpa izin-Nya. Tidak ada kematian seserat neuronpun di otak kita tanpa seizin-Nya. Tidak ada setitik pikiran dan seucap katapun yang sanggup dilontarkan manusia tanpa seizin-Nya. Allahlah yang memberi hidayah manusia sehingga suatu kebaikan ringan dia kerjakan.”

Mari ikuti beberapa uraian berikut. Shalat sudah menjadi kebutuhan, ucapan santun menjadi trade mark dan ibadah apapun terasa nikmat. Namun kadang kondisi ini membuat manusia makin lalai. Bukan lalai pada Tuhannya, tapi yang paling sering adalah lalai pada saudara sesama muslimnya. Dia berfikir bahwa orang setingkat dia harus hidup dengan komunitasnya. Dia takut kalau orang yang keimanannya dibawahnya, atau jauh dibawahnya akan memberi dampak negatif bagi perkembangan rohaninya. Walhasil, dia hanya hidup di kalangan komunitas exclusive bikinannya sendiri. Kalau kondangan saja, dia selalu ngumpul sesama “jalur” dan tidak membaur. Sukanya mengorek kekurangan kelompok lain dan merasa diri/kelompoknyalah yang paling hebat.

Inilah sisi lain yang dengan kasih sayang-Nya, Allah berusaha mengubah dengan “takdir lain”. Dia takdirkan dosa dengan apapun penyebab yang mungkin. Shalat tahajjud sampai kelelahan dan tertidur sebelum adzan subuh. Akhirnya terbangun Jam 06.30 pagi.. Langsung mandi, berangkat kerja dan tidak sempat lagi shalat subuh. Dapat sunnah tapi yang wajib ditinggalkan. Ibarat dapat tambal baju, tapi tidak pakai baju. Karena amalan sunnah itu hanyalah amalan tambahan sebagai tambal bolongnya amalan wajib. Bolong karena kurang ikhlas, riya’ atau hal lain.

Mari kita lihat saudara-saudara kita yang sedang dijalur “kurang beruntung”. Pekerjaan utama sebagai penjaja tubuh. Dapat duit untuk judi sambil minum-minuman keras. Setelah duitnya habis dia “jualan” tubuh lagi. Begitulah kesehariannya dia jalani dengan normal menurut ukurannya sendiri. Tidak ada kata dosa.

Duapuluh tahun berikutnya ketika usianya menginjak empatpuluhan, nilai jualnya sudah turun drastis. Persaingan makin ketat dengan munculnya “daun-daun muda” baru. Cari duit sudah sulit. Badanpun mulai sakit-sakit. Setelah di-cek ke dokter, ternyata kena AIDS. Hari demi hari tubuhnya kian kurus.

Detik demi detik dari setiap sisa nafasnya hanyalah untuk menanti kereta kematian. Dia terhenyak, “kepada siapa lagi aku minta pertolongan ?” Akhirnya dengan rasa malu dia menyebut sebuah nama yang sudah terkubur selama duapuluh tahun. “Allah……….Allah……….Allah……”, mulutnya gemetaran menyebut dengan air mata meleleh penuh ketulusan. Dia yakin se-yakin yakinnya hanya Allahlah yang sanggup menolong. Sajadahpun dia cari lalu digelar untuk shalat, taubat dan taubat. Tak ada sedikitpun kesombongan terbesit dihatinya. Karena memang tidak ada yang pantas dia sombongkan dihadapan siapapun. Dosanya menumpuk sedang amal sorganya baru dia mulai. Inilah sisi yang lebih “lain” lagi sehingga Allah mengubah takdirnya. Dari sesat menjadi hidayah. Subhanallah.

Dari kedua contoh yang saling bertolak belakang tersebut, dapat disimpulkan bahwa takdir Allah itu adalah tuntutan kasih sayang-Nya. Dia Maha Tahu dengan cara apa Dia membuat manusia berjalan di trotoar yang benar dalam ukuran-Nya. Semuanya bertujuan agar sang mahluk tunduk pada Sang Khalik dengan setunduk-tunduknya. Penuh keihlasan. Ikhlas dengan tujuan hanya kepada Allah. Bukan hanya untuk mencari popolaritas ditengah-tengah manusia, karena namanya memang sudah miring dalam pandangan manusia.

Perbaikan demi perbaikan tidaklah berarti lagi dimata manusia. Lalu kepada siapa dan kepada siapa lagi dia harus minta pertolongan ? Inilah titik kulminasi kepasrahan yang diciptakan Allah pada sang hamba agar dia benar-benar kembali ke pangkuan-Nya. Dengan demikian pertolongan dan keagungan Tuhan bukan hanya sekedar kalimat-kalimat puisi, lagu atau nyanyian tapi lebih dari itu; dia akan rasakan dengan sepenuh hati. Kesimpulannya bahwa Allah tidak akan menjatuhkan takdir dengan sia-sia.

Dengan kasih sayang-Nya, tidak ada satupun dari takdir-Nya yang merugikan manusia. Semua bertujuan agar manusia kembali ke pangkuan-Nya dengan kesucian karena dia berangkat ke dunia dengan kesucian pula. Semua bertujuan agar manusia benar-benar sepenuhnya bergantung pada-Nya, sehingga tidak ada kemusyrikan dihatinya, walaupun sebesar zarrah.

Allah Tak Pernah Tidur.

Posted in Dariku - Untukmu on March 4, 2009 by Yazid

Malam kian larut seiring pekatnya mendung menutupi cahaya rembulan. Kini waktu menunjukkan pukul 23.43. Pekerjaan organisasi yang menumpuk membuat saya harus meniggalkan sekretariat selarut ini.  Ah, hari yang melelahkan dan menjemukan saat itu. Terlebih, setelah beberapa saat berkendara dengan laju sepeda motor, langit tampak kian menghitam, rintik hujan mulai turun, lupa bawa jas hujan lagi. Lengkap sudah. Badan yang lelah, ditambah acara “kehujanan”.

Akhirnya saya putuskan untuk berteduh saat melihat sebuah tenda sederhana dengan sebuah lampu patromak. Segera saya berteduh, menjumpai bapak penjual yang sendirian, sedang merokok dan ditemani nyala redup lampu patromak. Dia menyilahkan saya duduk, “Disini saja dulu, dik. Dari pada kehujanan.” Begitulah katanya, sambil tersenyum saat saya meminta ijin berteduh.

Benar saja. Hujan makin deras, dan kami makin terlihat dalam kesunyian yang pekat.Karena tak nyaman atas kebaikan bapak penjual dan tendanya, saya memesan mie rebus. Sang bapak tersenyum dan mulai menyiapkan tungku apinya. Dia  nampak sibuk, bumbu dan penggorengan telah siap. Tampaklah pertunjukan sebuah pengalaman yang tidak dapat diraih dalam waktu sebentar.Tangannya cekatan sekali meraih bumbu, mie, dan semuanya. Segera saja, mie rebus yang mengepul telah siap tersaji. Keadaan yang canggung mulai pudar. Basa basi, saya bertanya; “wah, hujannya tambah deras, pak. Orang-orang tidak keluar, ya pak?” Bapak itu menoleh ke arah saya, sambil (lagi-lagi) tersenyum, dia berkata; “Iya, dik. Jadi sepi dagangan saya.” Katanyasambil menghirup rokok dalam-dalam.

“Kalau hujan begini, jadi sedikit yang beli, yapak.” Kata saya. “Wah, rezekinya berkurang, ya pak?” Duh, prtanyaan yang bodoh. Tentu saja tak banyak yang membeli kalau hujan seperti ini. Tentunya, pertanyaan itu hanya akan membuat bapak itu tambah sedih. Namun, ternyata saya keliru.

“Gusti Allah, ora sare dik, (Allah itu tidak pernah istirahat), begitu katanya. “Rezeki saya ada dimana-mana. Saya malah senang kalau hujan begini. Kalau hujan, saya dan istri pasti dapat air buat sawah. Yah, walaupun nggak lebar, tapi lumayan lah tanahnya.” Bapak itu melanjutkan, “Cucuian motor anak saya juga tambah laku kalau besok masih hujan…..”.

Degh. Dduh, hati saya tergetar. Bapak itu benar, “Gusti Allah ora sare”. Allah Memang Maha Kuasa, yang tak pernah istirahat buat hamba-hamba-Nya. Saya rupanya telah keliru memaknai hidup. Filsafat hidup yang saya punya (sebagai sorang mahasiswa dan guru), tampak tak ada artinya di depan perkataan sederhana itu. Makna nya terlampau dalam, membuat saya banyak berpikir dan menyadari kekerdilan saya di hadapan Tuhan.

Saya selalu berpikiran, bahwa hujan adalah bencana, adalah petaka bagi banyak hal. Saya selalu berpendapat, bahwa rezeki itu selalu berupa materi, dan hal nyata yang bisa digenggam dan dirasakan. Dan saya juga berpendapat, bahwa saat ada ujian yang menimpa, maka itu artinya saya cuma harus bersabar. Namun saya keliru. Hujan, memang bisa menjadi bencana, namun rintiknya bisa menjadi anugerah bagi setiap petani. Derasnya juga adalah berkah bagi sawah-sawah yang perlu diairi. Derai hujan mungkin bisa menjadi petaka, namun derai itu pula yang menjadi harapan bagi sebagian orang yang mengojek payung, atau mendorong mobil yang mogok.

Hmm…saya makin bergegas untuk menyelesaikan mie rebus itu. Beribu pikiran tampak seperti lintasan-lintasan cahaya yang bergerak di benak saya. “Ya Allah, Engkau Memang Tak Pernah Beristirahat” Untunglah, hujan telah reda, dan sayapun telah selesai makan.

Dalam perjalanan pulang, hanya kata itu yang teringat, Gusti Allah Ora Sare….. Gusti Allah Ora Sare…..

Begitulah, saya sering takjub pada hal-hal kecil yang ada di depan saya. Allah memang selalu punya banyak rahasia, dan mengingatkan kita dengan cara yang tak terduga. Selalu saja, Dia memberikan Cinta kepada saya lewat hal-hal yang sederhana. Dan hal-hal itu, kerap membuat saya menjadi semakin banyak belajar.

Dulu, saya berharap, bisa melewati tahun ini dengan hal-hal besar, dengan sesuatu yang istimewa. Saya sering berharap, saat saya bertambah usia, harus ada hal besar yang saya lampaui. Seperti tahun sebelumnya, saya ingin ada hal yang menakjubkan saya lakukan. Namun, rupanya tahun ini Allah punya rencana lain buat saya. Dalam setiap doa saya, sering terucap agar saya selalu dapat belajar dan memaknai hikmah kehidupan. Dan kali ini Allah pun tetap memberikan saya yang terbaik. Saya tetap belajar, dan terus belajar, walaupun bukan dengan hal-hal besar dan istimewa.

Energi Cinta

Posted in Dariku - Untukmu on February 12, 2009 by Yazid

“Orang yang tidak memiliki apa-apa, tidak akan dapat memberi apa-apa.”

Pertama kali mendengar ungkapan di atas, yang terlintas di otak saya adalah bahwa ungkapan ini mencerminkan satu kesombongan seorang kaya. Mencoba merenung lebih jauh, ternyata saya telah terjebak dalam sebuah kedangkalan pemikiran. Memberi, terkadang memang menimbulkan konotasi yang berkaitan dengan materi. Padahal, tidak selamanya aktivitas memberi itu harus diidentikkan dengan harta benda. Semua hal yang membutuhkan interaksi antara 2 pihak atau lebih, selalu akan bersinggungan dengan kata ‘memberi’ dan ‘menerima’. Pertolongan, informasi, nasehat, perhatian, cinta adalah beberapa hal yang bisa kita ‘beri’ dan kita ‘terima’, tanpa harus berwujud suatu materi. Tetapi ada satu kesamaan di antara semua pemberian itu. Ketika kita ingin memberi, kita harus terlebih dahulu memiliki apa yang ingin kita berikan itu.

Kali ini, lagi-lagi, kita bicara tentang CINTA. Tema universal ini memang tidak akan pernah bosan dan usang untuk dibahas. Apalagi menjelang hari Valentine, hari yang dikuduskan orang-orang barat sebagai hari kasih sayang. Tapi di sini saya tidak ingin membicarakan tentang keromantisan cinta seorang laki-laki dan perempuan. Saya teringat lirik sebuah lagu dulu:

Don’t search in the stars for signs of love, just look around your live you’ll find enough. (Se A Vida E – Pet Shop Boys)

Ya. Lihatlah ke sekitar kita. Sangat banyak cinta yang telah kita peroleh. Cinta dari kedua orang tua kita, kakak dan adik kita, sahabat-sahabat, guru, tetangga, bahkan dari orang-orang yang tidak pernah kita duga sebelumnya, mereka senantiasa memberikan cintanya kepada kita. Sebagian mungkin tidak tercetus secara lisan, tapi getaran itu tetap tertangkap melalui tindakan mereka, dan mewarnai hari-hari kita. Bahkan dari makhluk selain manusia pun, kita senantiasa mendapatkan cinta itu.

Ingatkah bahwa matahari hari ini masih bersinar untuk membantu proses fotosintesis tumbuhan, yang kemudian menghasilkan O2 untuk kita hirup? Ingat juga ketika semalam kita memandangi bulan yang menebarkan cahaya dengan cantiknya untuk menemani kegelapan sang malam? Bahwa angin laut dan gelombang telah dan akan senantiasa membantu manusia dalam menepikan ikan untuk ditangkap? Atau perasaan senang kita saat tergelak memperhatikan seekor kucing yang terbelit benang rajutan? Atau kedamaian yang kita rasakan saat melihat sepasang angsa berenang dengan anggunnya di tengah danau? Subhanallah….

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir. (QS. Al-Jaatsiyah: 13)

Begitu banyak energi cinta yang telah ditransfer ke dalam kehidupan kita, bukankah akan sangat adil jika kita ingin membalas semua cinta itu dengan energi yang sama, atau bahkan lebih besar? Seorang sahabat pernah menyebutkan,

“Jangan pernah lupa bahwa di alam ini berlaku hukum kekekalan energi. Setiap energi yang kita keluarkan untuk sekitar kita, ia tidak akan pernah hilang menguap begitu saja. Energi itu pasti akan kembali kepada kita, terkadang setelah bertransformasi ke dalam bentuk yang lain.”

Saya termenung mendengar pernyataan itu. Bukan, bukan suatu pamrih yang terbaca darinya, tapi tersirat sebuah ketulusan yang luar biasa. Cukuplah kita mengharapkan ‘pengembalian’ energi itu dalam bentuk pahala dan catatan amal kebaikan di sisi Allah SWT.

“Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya.” (QS. Mukmin: 17)

Sampai titik ini, semoga secara diam-diam telah terbersit di hati kita sebuah keinginan untuk membagi energi cinta itu, lalu bersama-sama kita bertanya: Bagaimana caranya? Maha Besar Allah yang telah menyiapkan jawaban atas pertanyaan itu:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam: 96)

Subhanallah… Lihatlah! Ternyata rasa kasih sayang itu akan Allah tanamkan ke dalam hati orang-orang yang beriman dan beramal soleh. Tentu saja rasa kasih sayang yang dimaksud di sini adalah yang sesuai dengan syariat Islam, kasih sayang yang bernilai ibadah, menjadikan orang-orang yang melaksanakannya mendapat naungan Allah pada hari dimana tiada naungan kecuali dari-Nya, kasih sayang yang membawa orang-orang yang melaksanakannya naik ke atas mimbar cahaya dan membuat iri para nabi dan syuhada.

Manusia adalah makhluk sosial. Setiap hari kita dituntut untuk berinteraksi dengan berbagai macam orang. Mulai dari membuka mata, hingga ketika kita akan menutupnya untuk menunaikan hak istirahat tubuh di waktu malam, kita senantiasa akan bertemu dengan berbagai macam orang. Berinteraksi, sesungguhnya adalah salah satu cara kita untuk memberi energi cinta kepada sekitar kita.

Pada alam kita memberi cinta, dengan menjaga keseimbangannya dan tidak membuat kerusakan. Pada hewan dan tumbuhan pun kita memberi cinta, dengan memberikan hak mereka ketika menjadi tanggungan kita, menampakkan akhlak yang terbaik. Dan pada manusia, transfer energi cinta itu dapat kita lakukan dalam berbagai cara, baik langsung maupun tidak.

Izinkan saya menganalogikan hati manusia seperti sebuah kolam penampungan. Di dasar kolam itu, terdapat banyak keran yang dapat dibuka/tutup untuk pengaturan keluarnya isi kolam. Tentu saja, keran itu akan mengalirkan apa yang ditampung dalam kolam hati kita. Dan sebuah keniscayaan akan berlaku, ketika keran tersebut dibuka terus-menerus tanpa ada aliran masuk kembali, kolam itu akan menjadi kering. Maka, berinteraksi adalah aktivitas kita dalam membuka ‘keran’ untuk mencurahkan energi cinta. Dan agar kasih sayang sebenarnya yang teralirkan, ‘kolam’ tersebut haruslah diisi dengan materi yang sama, yaitu cinta dan kasih sayang.

Kembalilah sejenak untuk membaca firman Allah di atas. Untuk menanamkan rasa kasih sayang di hati kita, kuncinya adalah beriman dan beramal soleh. Sahabat… mari me-recharge energi cinta kita hanya dari sumber cinta yang abadi, Dia Yang Memiliki cinta tak terperi, cinta yang sangat sempurna. Mari, kita isi kembali energi cinta di hati kita dengan shalat-shalat khusyu’ kita, tilawah-tilawah tartil kita, shaum sunnah kita, sedekah dan infak kita hari ini, doa-doa panjang kita di waktu malam, serta dari semua pos ibadah dan amal soleh yang telah Allah sediakan bagi kita.

Karena, untuk membuka ‘keran’ pencurahan energi cinta dari ‘kolam’ penampungan yang ada pada hati ini, terlalu sombong rasanya jika kita tidak pernah mengisi kolam tersebut dengan energi cinta dari-Nya. Ya, jika kolam itu sudah kering, apa yang bisa kita bagi?

Wallahua’lam bi shawab

All of Us Are Pearl…,

Posted in Dariku - Untukmu on February 9, 2009 by Yazid

Mutiara. Awalnya ia bukan apa-apa. Hanya butiran pasir dan debu kotor yang tak ada harganya. Waktu yang kemudian membentuknya: detik demi detik, di kedalaman samudera, dalam kegelapan cangkang makhluk-Nya. Dengan proses yang demikian panjang dan pelan, penuh kesabaran. Pun kemudian, keindahannya juga tak dapat segera dinikmati begitu saja. Karena ia harus dijemput di kedalaman lautan, dikeluarkan dari rumahnya yang kokoh dan dibersihkan, disepuh dan diolah hingga menjadi perhiasan istimewa. Sungguh sebuah proses yang panjang dan melelahkan, bahkan bukan tidak mungkin terhenti di tengah jalan.

***

Mungkin engkau pernah merasa dirimu bukanlah apa-apa saat ini. Bahkan bisa jadi lebih dari itu, engkau membenci dirimu sendiri, sebagai manusia tak berguna, makhluk sia-sia. Begitu banyak kekurangan, begitu banyak kesalahan dan keburukan. Apalagi ketika kau melihat orang lain yang nampak begitu sempurna dan memiliki begitu banyak kelebihan, rasanya engkau makin ingin tenggelam. Mengapa orang lain memiliki begitu banyak kelebihan sedang aku tak memiliki apa-apa kecuali kekurangan? Mengapa aku buruk sedang orang lain cakep? Mengapa orang lain berhasil dan aku selalu gagal? Mengapa orang lain kaya dan aku miskin? Serta beribu ‘mengapa’ lainnya yang akan membuat kita kecewa dan terluka, serta terpaku pada kekurangan-kekurangan yang kita miliki.

Padahal, saya percaya, setiap kita tahu dan yakin, bahwa Allah tidak mungkin menciptakan makhlukNya hanya dengan kekurangan saja atau kelebihan saja. Hanya dengan madharat saja tanpa manfaat atau sebaliknya. Pun kita manusia, pastilah memiliki keduanya dalam porsi yang imbang. Dia yang maha kuasa membekali manusia dengan segala kelebihan, menjadikan setiap insan memiliki keistimewaan. Hanya saja proses hidup yang kita alami mungkin telah membuatnya hanya menjadi potensi terpendam, tak muncul ke permukaan, bahkan mungkin ia, sekalipun ia pernah muncul di masa kecil kita, kemudian terkubur oleh segala tekanan dan rintangan.

Padahal, ibarat mutiara, kita tak dapat menjadi berharga begitu saja. Kita butuh waktu untuk membentuknya. Kita butuh proses panjang untuk mendapatkan keindahannya. Dan proses ini, butuh ketelatenan dan kesabaran.

Ya, sesungguhnya setiap kita adalah mutiara yang memiliki pancaran keindahan kita masing-masing, seperti apapun adanya kita pada awalnya. Kita hanya harus menyepuhnya untuk membuatnya menjadi berharga. Dan proses menyepuh ini, banyak cara dan jalannya.

Rintangan, hambatan, pengalaman, pembelajaran, baik oleh diri sendiri maupun oleh orang lain, tidak akan menjadi masalah. Karena pada dasarnya kita adalah mutiara. Kita hanya harus berusaha semaksimal kita, membuka mata, buka telinga dan buka hati.

Hanya satu awal yang perlu kita lakukan: itikad dan keyakinan untuk menjadi mutiara. Sungguh saya ingin menjadi mutiara, melalui berbagi dan berbakti pada sesama. Engkau? Menjadi mutiara seperti apa yang engkau inginkan?

Karena Noda Datang Setiap Waktu

Posted in Dariku - Untukmu on February 9, 2009 by Yazid

Beberapa tahun silam, krtika saya msih kecil, setiap sehari menjelang Ramadhan, biasanya kami sekeluarga melakukan satu kegiatan bersama. Seluruh anggota keluarga berkumpul, tanpa kecuali, untuk bersama-sama membersihkan rumah. Setiap sudut dan sisi rumah dibersihkan, dari pagar, teras, kamar mandi hingga gudang. Umi sudah mengatur tugas masing-masing dan seperti tahun sebelumnya, saya mendapatkan bagian paling basah, kamar mandi.

Bagi kami, rutinitas tahunan seperti ini amatlah menyenangkan. Disitu terlihat kekompakan dan kebersamaan semua anggota keluarga untuk membersihkan istana kecil yang selama ini menjadi tempat kami bernaung, berteduh dan terlelap menikmati mimpi-mimpi sederhana kami. Walaupun sebenarnya, tanpa acara bebersih total semacam ini, meski sederhana namun istana kecil kami senantiasa terlihat asri dan bersih setiap harinya.

Dan ketika saya coba tanyakan itu kepada Umi, lembut bibirnya berucap, “Apa Yazid mau hari ini tiak mandi? Kita harus bersih setiap hari kan?”

“Iya, tapi kenapa ini berbeda dari hari lainnya?” tanyaku lagi

“Karena besok tamu istimewa akan tiba. Sepantasnya kita menyambutnya dengan cara yang istimewa juga,” terang Umi kemudian.

Maka dimulailah tugasku. Sementara kakak dan adik saya harus berkutat dengan debu di halaman depan, teras, juga gudang, saya menghabiskan waktu beberapa jam dengan kubangan air untuk membersihkan kamar mandi. Sepintas kamar mandi kami terlihat bersih, sehingga,

“Umi, kamar mandi kita masih bersih kok …” ujarku nakal untuk menghindari pekerjaan berat.

“Jangan tertipu dengan pandangan pertama. Yang terlihat bersih belum tentu benar-benar bersih. Coba perhatikan lebih dekat, banyak noda hitam di sudut-sudutnya …” ajar Umi.

Umi benar. Setelah kuperhatikan, banyak sekali noda hitam di celah-celah, sudut dan juga ruas keramik lantai kamar mandi. Segera kuambil peralatan pembersih seperti sikat lantai dan sabun pembersih.

Mulanya kusiram dengan air berkali-kali, tapi noda hitam itu tidak juga hilang dari dinding dan lantai. Hingga satu ember air habis, tak juga hilang. Umi yang sejak tadi memperhatikan, berujar, “Tidak semua noda bisa hilang hanya dengan menyiramnya dengan air, sebanyak apa pun air yang Yazid siapkan”

Lalu saya menyikat noda hitam itu. Sekali sikat tak hilang, berkali-kali kucoba, hanya sedikit. Masih banyak noda tersisa di lantai dan nampaknya sudah begitu merekat di dinding sehingga teramat sulit untuk dihilangkan. Suara Umi kembali terdengar, “Susah kan kalau noda tidak dibersihkan setiap hari? Noda-noda itu sebenarnya tidak terlihat, tapi justru karena tidak terlihat itu kita menganggap ruang ini tetap bersih. Karena tidak pernah dibersihkan, semakin hari noda itu semakin jelas pekatnya.”

Tidak cukup dengan air dan sikat, saya pun menggunakan sabun pembersih untuk membantu menghilangkan noda-noda itu. Dan, setelah beberapa butir peluh menetes, akhirnya bersih juga kamar mandi itu. Saya dan Umi saling berpandangan lega memperhatikan hasilnya.

Sebelum keluar dari kamar mandi, lagi-lagi Umi bersuara, “Seperti inilah sulitnya jika diri ini sudah dipenuhi dosa. Tidak cukup satu dua macam ibadah untuk bisa menghilangkannya. Semakin banyak kita berbuat salah, semestinya jauh lebih banyak perbuatan baik yang kita lakukan untuk membuat diri kita bersih.”

Malam hari sebelum Umi membimbing kami dengan untaian doa dan belai lembut usapan Umi menjelang tidur, Umi berpesan, “Perbaiki diri kita setiap hari, karena kita melakukan kesalahan juga setiap hari.”

***
Ya, pernah terpikirkankah? Setiap hari kita membuat dosa, entah yang kita sadari, maupun tidak. Mungkin saja hari ini, ketika bangun tidur, sampai mata kita kembali terpejam, malam harinya, kita telah menyakiti perasaan orang lain, tanpa tersadari. Mungkin juga kita sempat marah, kemudian ‘bermatematika’ tentang nikmat kepada Allah, berghibah, syu’udzon, dan astaghfirullah, dosa-dosa kecil yang lain. Ingatkah kita?

Esoknya Ramadhan tiba. Kami semakin mengerti bahwa Ramadhan semakin indah dijalani dengan rumah yang bersih. Juga hati yang bersih. Sekali lagi ibu benar, noda datang tidak mengenal waktu.

Ketika Cinta Harus Memilih

Posted in Dariku - Untukmu, Tentang Cinta on February 9, 2009 by Yazid

Ketika kita didudukan dalam situasi untuk memilih, tentu naluri kemanusiaan kita akan memilih yang terbaik (best of the best). Lalu bagaimana jika justru ketika pilihan tersebut tidak ada yang memenuhi kriteria kita, haruskah kita tinggalkan dan mencari pilihan lain? Bagaimana jika seandainya pilihan tersebut mutlak yang terakhir? Dan bagaimana jika seandainya pilihan tersebut adalah suatu keputusan yang justru berimplikasi terhadap masa depan kita? Bagaimana seandainya jika justru pilihan tersebut adalah ujian dari Allah Swt sebagai wujud dari kasih sayang-Nya terhadap kita?

Banyak cerita di sekeliling kita yang dapat dijadikan bahan renungan tentang makna pilihan, dan buntutnya tentu masalah cinta. Jangan berpikiran sempit dulu tentang cinta itu sendiri. Cinta bukan hanya cinta antara pasangan suami istri (pasutri), atau cinta antara anak dan orang tua, namun juga termaktub cinta kepada suatu barang, misalnya buku dan lainnya. Bahkan ada seseorang yang sangat mencintai idola-nya, entah itu seorang artis atau aktor film.

Bukan suatu kebetulan jika saya mengetengahkan makna cinta ini kok sepertinya berhubungan dengan hari ‘valentine’ yang sebentar lagi tiba. Jujur saja saya sudah tidak ambil pusing dengan perayaan tersebut semenjak saya tahu bahwa perayaan hari valentine itu sangat jauh dari nilai islami. Bagi saya, cinta itu bersifat universal yang berhak dimiliki dan dinikmati oleh setiap makhluk hidup di bumi Allah ini tanpa batas waktu dan jarak.

Lalu, bagaimana jika kita dihadapkan kepada suatu keharusan untuk memilih satu dari dua pilihan yang ada? Sudahkah kita memaknai bahwa pilihan tersebut adalah yang terbaik menurut Allah Swt untuk kita, bukan sebaliknya.

Suatu kali pernah seorang teman bercerita tentang kehidupan hubungan pribadinya yang bermasalah. Namun sayangnya hal tersebut dijadikan alasan oleh sang teman untuk membalas-dendam dengan, maaf, berselingkuh dengan orang lain. Saya pun kerap bertanya kepada diri saya sendiri, bukankah ketika kita (sudah siap) memutuskan akan menikahi pasangan kita adalah suatu pilihan yang pasti terbaik dari segala pilihan yang ada?

Tapi tunggu dulu, terbaik menurut siapa?

Allah Swt menganugerahi setiap manusia sebuah bonus yang bernama ‘akal’, mengapa saya katakan ‘bonus’ karena selain manusia, makhluk lain (hewan dan tumbuhan) tidak dianugerahi hal yang sama. Selain itu, sebagai manusia kita pun dianugerahi ‘titel’ khalifah (di bumi) oleh Allah Swt.

“Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi”. (Faathir:39)

Kembali kepada cerita seorang teman di atas, salahkah dia dengan pilihan hatinya? Salahkah dia ketika meresa kecewa karena pilihannya ternyata jauh dari apa yang dia impikan? Atau ketika dia diberikan pilihan, sudahkah dia memutuskan memilihnya dengan atas nama Allah?

Abah saya selalu mengingatkan Umi untuk tidak terlalu mencintainya kalau bukan karena Allah Swt, karena ketika suatu saat Allah memanggil Abah, tidak ada lagi cinta dan tempat bernaung yang tersisa, karena kesemua cinta yang ada sudah dibawanya pergi. Namun, ketika ketika kita mencintainya atas nama Allah, badai rintangan apapun yang menghadang, kita masih dapat berlindung di bawah kasih sayang-Nya karena hanya Allah Swt yang mampu memberikan kesempurnaan perlindungan.

Keputusan sang teman untuk berselingkuh, jelas meletakkan nafsu di atas akal. Bukan hanya tidak akan memecahkan masalah, bahkan akan menambah masalah baru. Akal pun dikorbankan atas nama nafsu semata.

Saya teringat ketika adzan maghrib berkumandang, sebagian kita mungkin sedang asyik menyimak berita demonstrasi di sebuah liputan berita nasional di televisi. Dan pilihan kembali disorongkan kepada diri kita. Mematikan televisi dan langsung berwudhu atau mentolerir diri kita dengan ‘pembenaran’, toh beritanya tinggal lima menit, dan terus menonton. Kembali akal pun kita korbankan atas nama ‘tinggal lima menit’ ketika kita diberikan suatu pilihan di hadapan kita.

Bangun di waktu subuh ketika adzan berkumandang adalah satu pilihan terberat bagi sebagian orang yang lemah iman. Ketika orang lain sudah melangkah menuju surau/masjid di sisi lain kita mungkin masih enggan beranjak dari dalam selimut. Tidak hiraukan seruan dari surau…. “ash shalatu khairun minan naum…”

****

Cinta kepada orang lain melebihi cinta kepada suami, istri, anak, teman, idola, dan cinta kepada liputan berita daripada mendirikan sholat maghrib dan cinta kepada kehangatan selimut kita daripada bergegas ke surau adalah suatu pilihan yang diberikan Allah Swt bagi kaum yang berakal. Sudahkah kita termasuk ke dalam orang-orang yang berakal? Sudah pantaskah kita menjadi khafilah di bumi Allah ini?

Marilah kita bersegera sujud memohon ampun kehadirat-Nya atas segala keterlenaan kita dan atas keterbiusan kita akan gemerlap duniawi yang sebenarnya tiada kekal. “Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah:269)

Lalu, cinta manakah yang akan Anda pilih?

Wallaahu’alam bishshowab.