Sajak Tentang Robot I

Posted in Uncategorized on January 15, 2010 by Yazid

Masih
Berjalan sang zaman
Dalam portalnya:
Melemparku

Aku tersadar
Sesaat buih-buih cahaya
Membelai mata

Tercekik galau
Terbalut heran;
Siapa?
Di mana?
Bagaimana?

Menyapu sekitar, asing
Dalam tatap lingkar mata mencari
Kedua mataku akan manusia
Di antara tinggi menjuntainya
Gedung bercermin angkuh
Jalan beraspal serakah
Rumah beratap dusta
Pun hutan tak berambut
Tak kutemukan
Manusia-manusia itu
Hingga ujung lintas pandang
Menyudut

Hanya robot!

Katarsis

Posted in Uncategorized on January 15, 2010 by Yazid

Terpaku akan tiang noda
Terjerak pada rantai dosa
Terguyur hujan air mata sesal

Dulu….

Kumulai
Langkah – langkah
Pada malam
Mengelana ruang
Menembus waktu
Pun terus
Kita menari, menyanyi
Keindahan membuai mata
Lewat pesona
Menggurat noktah
Mengalihkan kabar
Izrail

Kutautkan langkah pada fajar
Tapaki jalan
Menikmati tiap scene tergambar
Sepanjang boulevard
Lalu menjemputku
Disini, persimpangan
Terpandang hanif*
Bermuara salsabila**

hanif* : jalan lurus
salsabila** : nama mata air di surga.

Pedagang*

Posted in Poetry on January 15, 2010 by Yazid

Pedagang…
Inginmu laris manis:
Berkawan untung
Menebas putung

Sembari jajakan setitik senyum
Kau harap limpahan senyum: untukmu
Seketika siramkan secuil tangis kosong
Kau nanti: guyuran hujan simpati

Pedagang…
Siapa ingin barang tak terjual:
Menyebar rayu madu
Menangkap denting keping laba

Ah, Tuhan pun kau rayu
Mengajak-Nya berniaga:
Dosa dan pahala
Atau surga pun neraka

Dan
Pedagangkah aku?

*Inspired by Achmad Fathol Qorib’s status

Pilu*

Posted in Poetry on January 15, 2010 by Yazid

Tuhanku
Selaksaku adalah dungu
Pandanganku adalah tipu
Dentingku: bisu
Karnoku: rungu
Nuraniku: beku

Tapi tak lalu,
Tuhanku
Kafirkan makhluk-Mu
Pada aksara semu…

Ighfirlii…, Robbku
Semenjak ragu
Terbalut dulu
aku…

Karena-Mu…
Titian nur-Mu…
Tetap kujamu…
Tak kurungu
Kicau tuna rungu…

“ma’shiyatun aurotsat dzullan wa iftiqaran khairun min tho’athin awratsat izzan wa istikbaran”

* Terinspirasi dari seorang nisa yang menghadiahiku sebutan kesayangan: “Kafir”

Cari Tahu Dengan Hati…

Posted in Dariku - Untukmu on June 19, 2009 by Yazid

Dulu, ketika saya mengantarkan umi pergi ke rumah seseorang. Ketika di dalam perjalanan, saya melihat sebuah pohon yang belum pernah saya lihat. Pohon itu berdaun seperti daun mangga. Buahnya juga seperti buah mangga. Tetapi warnanya seperti buah apel, merah. Saya membayangkan lezatnya rasa buah itu. Saya berniat nanti akan memetiknya.

Tibalah waktunya saya menjemput umi saya pulang. Ketika saya melewati buah ‘mangga-apel’ itu, tanpa pikir panjang saya pun memetiknya. Tak lama kemudian saya pun mulai menggigit buah itu, dan memang rasanya manis seperti apel.

Ketika buah ‘apel-mangga’ itu tinggal setengah, tiba-tiba saya berhenti. Mungkin hati nurani saya yang memerintahkan saya untuk berhenti memakan buah itu. Sejenak saya diberikan beberapa pertanyaan. Bukankah buah beserta pohonnya ada yang memiliki? Bukankah bila saya memakan buah ini saya harus meminta kehalalan dari si empunya? Kalau saya telah memakan sebagiannya, bukankah itu berarti saya memakan barang yang haram?

Ketika pertanyaan itu berkecamuk dalam hati saya, saya membayangkan bahwa perut saya akan merasa sakit terus-menerus, lalu tenggorokan saya akan sakit sehingga saya tidak bisa lagi untuk menelan makanan. Semuanya karena si empunya pohon buah tadi tidak memberikan kehalalan buah yang sudah saya makan.

Bayang-bayang kejadian buruk yang akan menimpa diri saya itu terus saja menghantui. Saya tidak memperhatikan lagi ke mana sisa buah yang tinggal setengah bagian itu. Hati saya bergejolak dan tubuh saya meronta keras karena tidak mau menerima semuanya. Padahal semua itu adalah akibat dari perbuatan saya sendiri yang ceroboh.

Setelah beberapa lama mengalami hal itu, tiba-tiba mata saya terbuka. Saya mendapati diri saya terbaring di atas tempat tidur saya. “Alhamdulillah,” itu lah yang secara sadar atau tidak sadar saya ucapkan. Ternyata hanya mimpi.

Bila saya mengingat mimpi itu saya jadi tersenyum. Kenapa dalam mimpi itu saya tidak berpikir untuk datang dan meminta kehalalan buah yang telah saya makan kepada si empunya seperti kisah teladan yang pernah saya baca. Siapa tahu dengan perbuatan itu, saya akan diperintahkan bekerja kepadanya beberapa bulan dan kemudian saya dijodohkan dengan putrinya yang cantik. Weleh…weleh……

Ternyata dalam mimpi itu, ketika berhadapan dengan kejadian tersebut, pikiran saya tidak berfungsi, atau mungkin dikalahkan dengan hati nurani saya. Seandainya hati nurani saya bisa berperan terus sebagai kendali setiap perbuatan saya. Bukankah hati itu bisa dimintakan fatwa mengenai baik atau buruknya suatu perbuatan?

Kira-kira setahun yang lalu, salah seorang teman saya bercerita tentang musibah yang menimpanya. Tanpa kesengajaan, dia telah menghilangkan sejumlah uang yang diamanahkan kepadanya. Lalu dia bertanya kepada saya, “Di laciku ada uang ‘enggak jelas’, apa boleh aku pakai uang itu untuk mengganti uang yang hilang. Nanti aku akan ganti dengan uang sendiri. Gimana?”

“Uang itu jangan digunakan untuk kepentingan pribadi. Kalau memang perlu segera, saya baru saja dapat rezeki, walaupun tidak banyak. Saya bisa pinjamkan, gimana?” begitu jawab saya, entah saat itu hati saya atau pikiran saya yang lebih kuat perannya. Tapi di sisi lain, saya membayangkan bila saya yang berada dalam posisinya, mungkin saya akan menggunakan uang itu dulu. Tapi untunglah saya tidak berada dalam posisinya dan saya memberikan jawaban yang terbaik yang saya punya.

Ketika saya mengetik tulisan ini, saya teringat pendapat teman saya, bahwa untuk menanyakan jawaban ke hati juga harus diperlukan ilmu. Pendapat teman saya itu mungkin ada benarnya, karena dengan ilmu akan menambah tingkat keyakinan akan jawaban yang diperoleh.

Dulu, di kantor sekolah tempat saya mengajar, ada istilah “Sabtu ceria”, di mana setiap hari sabtu kami akan mendapatkan sejumlah uang di luar dari gaji dan tunjangan yang saya terima. Asal-muasal dari mana sumber uang itu belumlah saya ketahui. Hingga suatu saat, saya diundang dalam sebuah rapat yang salah satu pembahasannya adalah pengelolaan dana yang diperoleh dari sumber selain gaji dan tunjangan. Dari situlah semuanya berasal, uang yang kami terima di “sabtu ceria”, bahkan untuk sekedar air minumdan jajanan ketika isrirahat, biayanya yang dikeluarkan dari sumber itu juga.

Alhamdulillah, sekarang tak lagi saya jumpai “sabtu ceria” dan untuk membeli air minum serta jajanan, saya dan teman-teman patungan setiap bulan setelah menerima gaji. Sekali lagi Alhamdulillah……

Wallahu a’lam bishshowab.

Arti Perbedaan

Posted in Dariku - Untukmu on June 19, 2009 by Yazid

Bila saya bercermin, maka saya berkeyakinan bahwa orang yang benar-benar menyerupai saya adalah orang yang berada di balik cermin tersebut. Orang itu memiliki apa yang saya miliki. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lebih dari itu warna dan bentuknya disetiap bagian tubuh saya sama dengan yang dia miliki. Bahkan ketika saya memakai pakaian, bentuk dan warna pakaian yang saya kenakan juga sama dengan yang dia kenakan.

Tetapi saya tidak hanya hidup di dalam sebuah kamar. Saya juga tidak hanya berinteraksi dengan bayangan saya di dalam cermin. Karena begitu keluar, akan saya temukan banyak orang-orang yang jauh berbeda dengan saya. Mulai dari jenis kelamin, usia, bentuk tubuh dan anggotanya, tinggi dan berat badan, warna kulit, warna dan bentuk ranmbut, pekerjaan, pendidikan, latar belakang budaya, pola pikir, karakter, serta entah apa lagi perbedaan yang ada. Rasanya saya tidak bisa menyebutkan semua perbedaan tersebut.

Namun demikian, di antara perbedaan yang ada, tentu saja ada kesamaan yang juga dimiliki saya dengan orang-orang di sekitar saya, juga dengan orang-orang yang berinteraksi dengan saya. Sebagai contoh, di ruangan kerja saya, ada kesamaan di antara orang-orangnya, kesamaan dalam hal tujuan yang akan diraih bersama, kesamaan bahwa kami bekerja di bawah departemen yang sama, kesamaan bahwa kami pernah mengikuti sebuah diklat yang sama, dan kesamaan-kesamaan lainnya.

Lantas apa ada yang salah dengan perbedaan tersebut? Bukankah Allah jua yang menciptakan manusia itu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, lengkap dengan aneka perbedaannya?

Mungkin Anda pernah melihat sebuah pemandangan di gunung, di danau, di pantai atau tempat wisata lainnya, baik secara langsung mauapun melalui layar kaca. Anda bisa menyaksikan bahwa keindahan itu terjadi karena sekian banyak flora dan fauna yang ada. Sekian jenis flora dan fauna itu, dengan berbagai jenis, bentuk dan ukuran, membentuk suatu ekosistem yang indah. Kalau saja, setiap jenis flora dan fauna itu dipisahkan pada tempat yang berbeda-beda, mungkin saja nilai keindahannya akan berkurang, atau bahkan tak akan lagi menyimpan keindahan.

Pelangi. Fenomena alam yang akan dapat kita lihat tatkala hujan mulai reda. Indah bukan? Saya berpikir bahwa keindahan pelangi itu karena adanya warna-warna yang berbeda yang mau berdampingan satu sama lain. Bila saja hanya ada satu warna yang ada, tidak akan indah, dan namanya tentu saja bukan pelangi lagi. Entah apa namanya, saya pun tidak tahu.

Dari sekian banyak perbedaan tentu saja akan ada persamaan. Sayangnya kita sering terlalu membesar-besarkan pebedaan yang kecil. Mungkin karena sekarang sudah ada alat yang canggih, seperti mikroskop yang mampu melihat benda-benda renik terlihat besar, maka kita juga ikut-ikutan latah. Lantas kita melihat perbedaan yang kecil itu dengan sebuah miksroskop, terlihatlah perbedaan itu berukuran raksasa, dan pada akhirnya perbedaan itu terus-menerus dipersoalkan dengan mengesampingkan berbagai kesamaan yang memang sudah jelas di depan mata.

Perbedaan itu merupakan suatu keniscayaan
Dari ‘sananya’ ia dilahirkan
Semuanya tergantung cara kita memberikan pandangan
Bila ia sebagai suatu masalah, maka ia takan pernah terpecahkan
Bila ia sebagai suatu anugerah, maka niscaya ia hadir dalam keindahan

Wallahu a’lam.

Menembus Langit?

Posted in Dariku - Untukmu on June 19, 2009 by Yazid

Dulu saya punya keinginan untuk membuat dan memiliki web site sendiri. Di situ saya akan berusaha untuk ‘berkreasi’ semampu saya dengan pengetahuan yang saya miliki. Tetaapi karena tidak ada pendukung, keinginan tersebut tidak pernah tercapai.

Pada suatu saat, ada seorang teman yang memiliki sebuah software yang bisa membentuk file help. Saya pun memintanya untuk mengajari saya bagaimana cara menggunakannya. Ternyata tidak begitu sulit, karena yang perlu dilakukan hanya mengklik tombol-tombol yang ada pada program tersebut. Akhirnya saya bisa menjalankan software tersebut, walalupun masih bersifat standar, karena masih banyak feature-feature dalam software tersebut yang belum saya mengerti.

Dan suatu hari, muncul sebuah ide untuk mengumpulkan artikel-artikel yang saya temukan di internet kemudian disatukan dengan software tersebut. Dalam pikiran saya toh hasilnya nanti akan mirip sebuah website, walaupun tidak seperti web site sebenarnya, karena software tersebut tidak interaktif dan tidak bisa diupdate. Namu meski demikian akhirnya teman saya menyarankan agar saya mengumpulkan tulisan-tulisan saya dalam sebuah blog.

Alahmdulillah, sudah banyak artikel yang saya kumpulkan ke dalam ‘Hanif Salsabila’ yang sampai saat ini sudah mencapai artikel yang ke-empat puluh delapan.

Suatu hari, dalam suatu obrolan di ruang chating sebuah situs pertemanan, ada seorang teman yang memberikan pujian dan doa. “Artikelnya cakep-cakep. Seminggu belum kelar bacanya, banyak banget. Semakin banyak amal antum, mengalir terus.” Begitulah kira-kira ucapannya yang langsung saya amini.

Siapapun orangnya, pasti menginginkan amal yang dilakukan bisa bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, serta mendapat balasan dari Allah SWT dengan mendapat pahala dan ridha-Nya. Siapapun orangnya, pasti mengharapkan limpahan pahala yang tiada henti-hentinya di dunia ini lebih-lebih lagi bila si pelaku telah meninggal dunia.

Sepulang dari kampus sore harinya, secara tak sengaja saya melihat sebuah sinetron disebuah televisi yang mengisahkan tentang amalan beberapa orang yang tidak bisa menembus lapisan-lapisan langit karena berbagai kekurangan yang dimilki masing-masing orang tersebut.

Amalan masing-masing orang tertolak karena mereka memiliki sifat-sifat buruk pada diri mereka, seperti suka mengumpat di balik setiap amalannya, hanya mengharapkan pujian dan dunia semata, sombong (takabbur), rasa bangga terhadap kehebatan diri dan meremehkan orang lain )’ujub), dengki (hasad) yang tidak senang jika orang lain lebih baik dari dirinya, serta riya tanpa keikhlasan karena Allah semata ketika beribadah.

Lantas, jika demikian banyaknya sifat-sifat tercela yang dimilki manusia, termasuk yang mengumpulkan Hanif Salsabila, apa bisa menembus langit?

–oo0oo–

Robbanaa zholamnaa anfusanaa wa in lam taghfirlanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khoosiriin.

Menemukan Cermin

Posted in Dariku - Untukmu on March 4, 2009 by Yazid

Surakarta, Desember 1787. Pamflet gelap menempel di tempat penyimpanan gamelan milik keraton. Isinya, sebuah gugatan untuk Pakubuwono III yang dituduh menyimpang. Raja Surakarta itu memang akrab dengan kolonial Belanda yang memeras tenaga rakyat, habis-habisan. “Mestikah orang-orang Eropa (dianggap) lebih kuat daripada Allah?” Surakarta sontak geger mencari-cari si pemasang pamflet. Tak tersedia petunjuk kecuali sebuah nama yang menyebut dirinya sebagai Susuhunan Ayunjaya Adimurti Senapati Ingulaga.

Pada waktu itu, tentu belum ada Jamaah Islam, Al Qaeda, Hamas, ataupun Jihad Islam. Tapi, kecurigaan aparatur asal Eropa sudah sejak lama dialamatkan pada Islam. Walhasil, seorang kyai ditangkap. Namanya, Kyai Alim Demak. Kyai yang buta huruf latin itu diseret jadi terdakwa. Sayang, belum ada presumption of innocence masa itu. Ia dihukum sebelum sempat diadili. Kyai Alim Demak disiksa hingga tewas. Kulitnya dikelupas selapis demi selapis. Tepat di bawah parasnya, pamflet yang menggemparkan itu, dibakar.

***

Raja Mataram putera Sultan Agung, Amangkurat I, murka sejadi-jadinya. Ada pembisik mengabarkan, ribuan ulama di wilayah kekuasaannya bersimpati pada Pangeran Alit yang tengah memberontak. Akarnya? Raja Mataram itu kerap mengorbankan rakyat demi kepentingan Belanda. Maka, bila Babad Tanah Jawi bisa dipercaya, 6000 orang –terdiri atas para ulama dan keluarganya– yang menjadi tersangka, dikumpulkan di alun-alun. Tanpa beban, dalam tempo kurang dari setengah jam semuanya tersungkur menjadi mayat tanpa kepala. Amangkurat I memerintahkan penyembelihan massal.

Pemberontakan, tokoh, terus berlanjut. Kali itu di bawah pimpinan Pangeran Trunojoyo, asal Madura. Amangkurat I akhirnya tumbang, dan anaknya, Amangkurat II, diserahi Trunojoyo untuk melanjutkan kekuasaan ayahnya. Tapi, tak lama setelahnya, ketika para bupati diundang dan dikumpulkan di balairung kerajaan. Di hadapan mereka disuguhkan adegan mengerikan. Amangkurat II menikam Pangeran Trunojoyo, lantas membelah perut dan mengambil hatinya. Setelah dicincang, ia bagi-bagi pada para bupati untuk ditelan mentah-mentah. Menguji loyalitas.

***

Lelaki kurus itu hidup di Kota Kufah, akhir abad ke-7. Tak banyak yang tahu kalau dia yang kali pertama menemukan cara membuat ubin lantai di masa itu. Sebagai saudagar, ia dikenal praktis, meski tidak terperangkap jadi pragmatis. Sepenjuru kota tahu, dialah yang mengogahi kompromi, sekalipun untuk sesuatu yang menguntungkan dirinya. Tak banyak cakap, namun dikenal bijak beragumentasi –pandai menjaga perasaan mitra diskusi. Dan ia, juga seorang ulama ternama. Dialah Abu Hanifah, dikenal sebagai Imam Hanafi, salah satu pendiri mazhab fiqh Islam.

Adakah ia seorang cerdas? Lebih dari itu, boleh jadi ia orang yang paling berhati-hati menjaga diri dari syubhat, apalagi yang haram. Ia keras terhadap diri sendiri. Suatu hari, telah tiba beberapa ekor domba hasil rampasan yang tercampur dengan ternak milik penduduk Kufah. Berita lekas menyebar dan sampai ke telinga Abu Hanifah. Sontak ia mencari tahu, “Berapa tahun biasanya umur seekor domba?” Seorang penggembala menjawab, “Tujuh tahun!” Lantaran itu, selama tujuh tahun ia mengharamkan daging domba masuk ke lambungnya.

Suatu kali, 10.000 dirham dikirimkan Khalifah Ja’far al Manshur sebagai hadiah. Lelaki itu hanya berucap pendek, “Taruh saja di sudut rumah.” Hingga kematiannya, ia tak pernah sentuh. Sepeninggalnya, ia mewasiatkan puteranya untuk mengembalikan uang itu pada Baitul Maal.

Puncak penolakan Abu Hanifah akhirnya tak terelakkan saat sang khalifah menunjuknya sebagai hakim agung (qadhi al qudha). Ia menolak, karena kekuasaan yang telanjur dianggapnya terlalu banyak distorsi yang kelewatan. Khalifah yang tak terima alasan itu mengirim Abu Hanifah ke bui. Di sana ia dipukul dan dicambuk. Punggungnya menebal beberapa senti, kapalan ternyata, akibat cemeti yang menyabetnya nyaris setiap hari.

Masih di dalam penjara, Khalifah Ja’far menjenguknya. Ia masih membujuk Abu Hanifah untuk menerima tawaran sebagai hakim agung –sekaligus menghadiahi uang dalam jumlah yang lebih besar, 30.000 dirham. Abu Hanifah singkat bertutur, “Apakah kekhalifahan masih memiliki uang yang halal?” Wajah Ja’far al Manshur memucat. Malu, juga marah. Hingga kematiannya, Abu Hanifah tetap hidup dalam penjara, bersama siksa yang tak kunjung reda. Lehernya, sejak itu, dikalungi rantai seorang pesakitan.

Adakah Abu Hanifah keras kepala? Atau, hatinya memang sekeras batu?

Sepertinya, sih, tidak. Semua orang tahu, ia keras terhadap diri sendiri, namun ringan memberi fatwa bagi para pengikutnya. Ia lembut bersuara, sekaligus merangsang lawan bicara untuk membantahnya.

“Demikianlah pendapat Abu Hanifah, dan ini yang sebaik-baiknya sepanjang pengetahuan kami. Bila datang keterangan yang lebih baik, dialah yang lebih utama diikuti.”

Maka, terkenanglah kini seorang ulama yang meneguhi kemerdekaan berpikir –sebuah kemerdekaan yang mampu mengatasi 2 pertarungan besar. Pertama, kemerdekaan yang mampu membebaskan diri dari rasa takut, bersikap tegas atas rayuan –ataupun ancaman– kekuasaan despotik. Kedua, kemerdekaan yang membebaskan diri dari sikap “tahu segala hal” dan merasa paling benar sendiri.

Seolah meneguhkan, Rumi pun bertanya retoris berbilang abad kemudian, “Tak tahukah engkau, ada banyak jalan menuju Ka’bah?”

***

Sejarah di suatu masa memang kerap berpihak pada kelompok yang paling bising menyuarakan agitasi dan propaganda: kasta yang memerintah. Sejarah bisa jadi timpang. Tapi sejarah pula akhirnya yang menyuguhkan pengajaran: manipulasi dan kebohongan dalam sejarah yang dikendalikan kekuasaan, memiliki durasi waktu yang tak abadi. Kebenaran, tak mungkin berselingkuh, bahkan dalam diamnya sekalipun.

Suatu generasi mesti punya amunisi keberanian yang cukup untuk berdialog dengan masa silam secara jujur. Tak cukup hanya untuk dikenang, melainkan mencari titik-titik progresi kebenaran untuk diteruskan. Keberanian sejenis itu mjenghadirkan cermin pembanding yang luas untuk sebuah pertanyaan bagi hari ini: kemajuan, atau justru kemerosotan?

Memang, terkadang banyak orang yang tak siap memperdengarkan suara dari sesuatu yang lampau. Tapi ada keharusan, karena di pelataran-Nya kita tak mempertanggungjawabkan dosa secara massal. Melainkan, “Kamu akan datang kepada Kami satu-satu, seperti Kami ciptakan kamu, dahulu.” (Surah Al-An’aam: 94)

Belajar menghisab diri lewat pengakuan dosa dalam cara yang paling telanjang, setidaknya, membantu menghadirkan ingatan. Tentang Hari Pengadilan yang niscaya datang, entah kapan. Dan masa silam, membantu kita melakukan semacam komparasi: kemajuan, atau justru kemerosotan, yang telah kita kerjakan?

Karena hidup, mestinya bukan gelanggang manifestasi dari berbagai penyangkalan. Melainkan sebuah penerimaan atas otokritik yang tidak berbalut dusta. Pada hari ini sewajarnya ada kelebihan dibanding kemarin. Dan esok, sepatutnya lebih sempurna dari waktu sekarang. Bila tidak, merugi dan celakah manusia. Demikian Kekasih Muhammad SAW, mendambakan.

Allah Jugakah Yang Menakdirkan Dosa?

Posted in Islamic Section on March 4, 2009 by Yazid

Ada sebuah wacana menarik ketika seorang anak muda melontarkan pertanyaan kepada seorang Ustadz.

“Ustadz, Allah jugakah yang mentakdirkan manusia dosa ?”, tanya pemuda itu membuka percakapan.

“Manusia itu sudah diberi akal untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang berpahala dan mana yang dosa. Jadi manusia itulah pada hakekatnya yang mendhalimi dirinya sendiri, sehingga dia terjerumus dalam dosa”, jawab sang ustadz dengan senyum ramah di bibirnya.

“Jadi, kuncinya pada akal manusia ?”.

“Ya, justru itulah yang membedakan manusia dengan hewan atau makhluk lain”.

“Lalu, siapa yang menggerakkan akal sehingga dia bisa memilih jalan surga atau neraka ?”, anak muda itu terus mengejar dengan pertanyaan.

“Faktor utama kualitas output itu ditentukan oleh kualitas input. Itulah hukum dasar produksi; yang juga berlaku untuk akal kita. Analoginya, kalau bahannya cuma semen, pasir dan air, mustahil bagi kita untuk membuat ubin marmer. Ubin marmer inputnya ya marmer. Artinya, agar otak kita memutuskan jalan sorga, inputnya harus amal kebaikan. Misalnya pengajian, tartil Qur’an, majelis taklim, teman sholeh/sholekhah dan segala tuntunan Qur’an – Hadist.”

“Siapa yang menggerakkan hati sehingga mampu memilih input dengan kualitas surga ?”

“Allahlah Sang Muqollibal Qulub (Pembolak Balik Hati)”, jawab Sang Ustadz dengan mantap.

“Jadi artinya Allah penentu “input surga” sebagai konsumsi otak manusia sehingga dia mampu memilih jalan ke surga. Allah juga penentu “input neraka” sebagai konsumsi otak manusia sehingga dia memilih jalan dosa. Bisakah saya menyimpulkan bahwa Allah juga yang menentukan manusia dosa ?”,

Si anak muda tadi berusaha menyimpulkan dari obrolan dengan sang ustadz.

Sang ustadz hanya tersenyum dengan kerut didahinya. Ia lalu mengatakan, “Demi Allah; tidak ada selembar daun keringpun yang jatuh tanpa izin-Nya. Tidak ada setetes darahpun yang mengalir dalam tubuh ini tanpa izin-Nya. Tidak ada kematian seserat neuronpun di otak kita tanpa seizin-Nya. Tidak ada setitik pikiran dan seucap katapun yang sanggup dilontarkan manusia tanpa seizin-Nya. Allahlah yang memberi hidayah manusia sehingga suatu kebaikan ringan dia kerjakan.”

Mari ikuti beberapa uraian berikut. Shalat sudah menjadi kebutuhan, ucapan santun menjadi trade mark dan ibadah apapun terasa nikmat. Namun kadang kondisi ini membuat manusia makin lalai. Bukan lalai pada Tuhannya, tapi yang paling sering adalah lalai pada saudara sesama muslimnya. Dia berfikir bahwa orang setingkat dia harus hidup dengan komunitasnya. Dia takut kalau orang yang keimanannya dibawahnya, atau jauh dibawahnya akan memberi dampak negatif bagi perkembangan rohaninya. Walhasil, dia hanya hidup di kalangan komunitas exclusive bikinannya sendiri. Kalau kondangan saja, dia selalu ngumpul sesama “jalur” dan tidak membaur. Sukanya mengorek kekurangan kelompok lain dan merasa diri/kelompoknyalah yang paling hebat.

Inilah sisi lain yang dengan kasih sayang-Nya, Allah berusaha mengubah dengan “takdir lain”. Dia takdirkan dosa dengan apapun penyebab yang mungkin. Shalat tahajjud sampai kelelahan dan tertidur sebelum adzan subuh. Akhirnya terbangun Jam 06.30 pagi.. Langsung mandi, berangkat kerja dan tidak sempat lagi shalat subuh. Dapat sunnah tapi yang wajib ditinggalkan. Ibarat dapat tambal baju, tapi tidak pakai baju. Karena amalan sunnah itu hanyalah amalan tambahan sebagai tambal bolongnya amalan wajib. Bolong karena kurang ikhlas, riya’ atau hal lain.

Mari kita lihat saudara-saudara kita yang sedang dijalur “kurang beruntung”. Pekerjaan utama sebagai penjaja tubuh. Dapat duit untuk judi sambil minum-minuman keras. Setelah duitnya habis dia “jualan” tubuh lagi. Begitulah kesehariannya dia jalani dengan normal menurut ukurannya sendiri. Tidak ada kata dosa.

Duapuluh tahun berikutnya ketika usianya menginjak empatpuluhan, nilai jualnya sudah turun drastis. Persaingan makin ketat dengan munculnya “daun-daun muda” baru. Cari duit sudah sulit. Badanpun mulai sakit-sakit. Setelah di-cek ke dokter, ternyata kena AIDS. Hari demi hari tubuhnya kian kurus.

Detik demi detik dari setiap sisa nafasnya hanyalah untuk menanti kereta kematian. Dia terhenyak, “kepada siapa lagi aku minta pertolongan ?” Akhirnya dengan rasa malu dia menyebut sebuah nama yang sudah terkubur selama duapuluh tahun. “Allah……….Allah……….Allah……”, mulutnya gemetaran menyebut dengan air mata meleleh penuh ketulusan. Dia yakin se-yakin yakinnya hanya Allahlah yang sanggup menolong. Sajadahpun dia cari lalu digelar untuk shalat, taubat dan taubat. Tak ada sedikitpun kesombongan terbesit dihatinya. Karena memang tidak ada yang pantas dia sombongkan dihadapan siapapun. Dosanya menumpuk sedang amal sorganya baru dia mulai. Inilah sisi yang lebih “lain” lagi sehingga Allah mengubah takdirnya. Dari sesat menjadi hidayah. Subhanallah.

Dari kedua contoh yang saling bertolak belakang tersebut, dapat disimpulkan bahwa takdir Allah itu adalah tuntutan kasih sayang-Nya. Dia Maha Tahu dengan cara apa Dia membuat manusia berjalan di trotoar yang benar dalam ukuran-Nya. Semuanya bertujuan agar sang mahluk tunduk pada Sang Khalik dengan setunduk-tunduknya. Penuh keihlasan. Ikhlas dengan tujuan hanya kepada Allah. Bukan hanya untuk mencari popolaritas ditengah-tengah manusia, karena namanya memang sudah miring dalam pandangan manusia.

Perbaikan demi perbaikan tidaklah berarti lagi dimata manusia. Lalu kepada siapa dan kepada siapa lagi dia harus minta pertolongan ? Inilah titik kulminasi kepasrahan yang diciptakan Allah pada sang hamba agar dia benar-benar kembali ke pangkuan-Nya. Dengan demikian pertolongan dan keagungan Tuhan bukan hanya sekedar kalimat-kalimat puisi, lagu atau nyanyian tapi lebih dari itu; dia akan rasakan dengan sepenuh hati. Kesimpulannya bahwa Allah tidak akan menjatuhkan takdir dengan sia-sia.

Dengan kasih sayang-Nya, tidak ada satupun dari takdir-Nya yang merugikan manusia. Semua bertujuan agar manusia kembali ke pangkuan-Nya dengan kesucian karena dia berangkat ke dunia dengan kesucian pula. Semua bertujuan agar manusia benar-benar sepenuhnya bergantung pada-Nya, sehingga tidak ada kemusyrikan dihatinya, walaupun sebesar zarrah.

Allah Tak Pernah Tidur.

Posted in Dariku - Untukmu on March 4, 2009 by Yazid

Malam kian larut seiring pekatnya mendung menutupi cahaya rembulan. Kini waktu menunjukkan pukul 23.43. Pekerjaan organisasi yang menumpuk membuat saya harus meniggalkan sekretariat selarut ini.  Ah, hari yang melelahkan dan menjemukan saat itu. Terlebih, setelah beberapa saat berkendara dengan laju sepeda motor, langit tampak kian menghitam, rintik hujan mulai turun, lupa bawa jas hujan lagi. Lengkap sudah. Badan yang lelah, ditambah acara “kehujanan”.

Akhirnya saya putuskan untuk berteduh saat melihat sebuah tenda sederhana dengan sebuah lampu patromak. Segera saya berteduh, menjumpai bapak penjual yang sendirian, sedang merokok dan ditemani nyala redup lampu patromak. Dia menyilahkan saya duduk, “Disini saja dulu, dik. Dari pada kehujanan.” Begitulah katanya, sambil tersenyum saat saya meminta ijin berteduh.

Benar saja. Hujan makin deras, dan kami makin terlihat dalam kesunyian yang pekat.Karena tak nyaman atas kebaikan bapak penjual dan tendanya, saya memesan mie rebus. Sang bapak tersenyum dan mulai menyiapkan tungku apinya. Dia  nampak sibuk, bumbu dan penggorengan telah siap. Tampaklah pertunjukan sebuah pengalaman yang tidak dapat diraih dalam waktu sebentar.Tangannya cekatan sekali meraih bumbu, mie, dan semuanya. Segera saja, mie rebus yang mengepul telah siap tersaji. Keadaan yang canggung mulai pudar. Basa basi, saya bertanya; “wah, hujannya tambah deras, pak. Orang-orang tidak keluar, ya pak?” Bapak itu menoleh ke arah saya, sambil (lagi-lagi) tersenyum, dia berkata; “Iya, dik. Jadi sepi dagangan saya.” Katanyasambil menghirup rokok dalam-dalam.

“Kalau hujan begini, jadi sedikit yang beli, yapak.” Kata saya. “Wah, rezekinya berkurang, ya pak?” Duh, prtanyaan yang bodoh. Tentu saja tak banyak yang membeli kalau hujan seperti ini. Tentunya, pertanyaan itu hanya akan membuat bapak itu tambah sedih. Namun, ternyata saya keliru.

“Gusti Allah, ora sare dik, (Allah itu tidak pernah istirahat), begitu katanya. “Rezeki saya ada dimana-mana. Saya malah senang kalau hujan begini. Kalau hujan, saya dan istri pasti dapat air buat sawah. Yah, walaupun nggak lebar, tapi lumayan lah tanahnya.” Bapak itu melanjutkan, “Cucuian motor anak saya juga tambah laku kalau besok masih hujan…..”.

Degh. Dduh, hati saya tergetar. Bapak itu benar, “Gusti Allah ora sare”. Allah Memang Maha Kuasa, yang tak pernah istirahat buat hamba-hamba-Nya. Saya rupanya telah keliru memaknai hidup. Filsafat hidup yang saya punya (sebagai sorang mahasiswa dan guru), tampak tak ada artinya di depan perkataan sederhana itu. Makna nya terlampau dalam, membuat saya banyak berpikir dan menyadari kekerdilan saya di hadapan Tuhan.

Saya selalu berpikiran, bahwa hujan adalah bencana, adalah petaka bagi banyak hal. Saya selalu berpendapat, bahwa rezeki itu selalu berupa materi, dan hal nyata yang bisa digenggam dan dirasakan. Dan saya juga berpendapat, bahwa saat ada ujian yang menimpa, maka itu artinya saya cuma harus bersabar. Namun saya keliru. Hujan, memang bisa menjadi bencana, namun rintiknya bisa menjadi anugerah bagi setiap petani. Derasnya juga adalah berkah bagi sawah-sawah yang perlu diairi. Derai hujan mungkin bisa menjadi petaka, namun derai itu pula yang menjadi harapan bagi sebagian orang yang mengojek payung, atau mendorong mobil yang mogok.

Hmm…saya makin bergegas untuk menyelesaikan mie rebus itu. Beribu pikiran tampak seperti lintasan-lintasan cahaya yang bergerak di benak saya. “Ya Allah, Engkau Memang Tak Pernah Beristirahat” Untunglah, hujan telah reda, dan sayapun telah selesai makan.

Dalam perjalanan pulang, hanya kata itu yang teringat, Gusti Allah Ora Sare….. Gusti Allah Ora Sare…..

Begitulah, saya sering takjub pada hal-hal kecil yang ada di depan saya. Allah memang selalu punya banyak rahasia, dan mengingatkan kita dengan cara yang tak terduga. Selalu saja, Dia memberikan Cinta kepada saya lewat hal-hal yang sederhana. Dan hal-hal itu, kerap membuat saya menjadi semakin banyak belajar.

Dulu, saya berharap, bisa melewati tahun ini dengan hal-hal besar, dengan sesuatu yang istimewa. Saya sering berharap, saat saya bertambah usia, harus ada hal besar yang saya lampaui. Seperti tahun sebelumnya, saya ingin ada hal yang menakjubkan saya lakukan. Namun, rupanya tahun ini Allah punya rencana lain buat saya. Dalam setiap doa saya, sering terucap agar saya selalu dapat belajar dan memaknai hikmah kehidupan. Dan kali ini Allah pun tetap memberikan saya yang terbaik. Saya tetap belajar, dan terus belajar, walaupun bukan dengan hal-hal besar dan istimewa.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.