Dulu, ketika saya mengantarkan umi pergi ke rumah seseorang. Ketika di dalam perjalanan, saya melihat sebuah pohon yang belum pernah saya lihat. Pohon itu berdaun seperti daun mangga. Buahnya juga seperti buah mangga. Tetapi warnanya seperti buah apel, merah. Saya membayangkan lezatnya rasa buah itu. Saya berniat nanti akan memetiknya.
Tibalah waktunya saya menjemput umi saya pulang. Ketika saya melewati buah ‘mangga-apel’ itu, tanpa pikir panjang saya pun memetiknya. Tak lama kemudian saya pun mulai menggigit buah itu, dan memang rasanya manis seperti apel.
Ketika buah ‘apel-mangga’ itu tinggal setengah, tiba-tiba saya berhenti. Mungkin hati nurani saya yang memerintahkan saya untuk berhenti memakan buah itu. Sejenak saya diberikan beberapa pertanyaan. Bukankah buah beserta pohonnya ada yang memiliki? Bukankah bila saya memakan buah ini saya harus meminta kehalalan dari si empunya? Kalau saya telah memakan sebagiannya, bukankah itu berarti saya memakan barang yang haram?
Ketika pertanyaan itu berkecamuk dalam hati saya, saya membayangkan bahwa perut saya akan merasa sakit terus-menerus, lalu tenggorokan saya akan sakit sehingga saya tidak bisa lagi untuk menelan makanan. Semuanya karena si empunya pohon buah tadi tidak memberikan kehalalan buah yang sudah saya makan.
Bayang-bayang kejadian buruk yang akan menimpa diri saya itu terus saja menghantui. Saya tidak memperhatikan lagi ke mana sisa buah yang tinggal setengah bagian itu. Hati saya bergejolak dan tubuh saya meronta keras karena tidak mau menerima semuanya. Padahal semua itu adalah akibat dari perbuatan saya sendiri yang ceroboh.
Setelah beberapa lama mengalami hal itu, tiba-tiba mata saya terbuka. Saya mendapati diri saya terbaring di atas tempat tidur saya. “Alhamdulillah,” itu lah yang secara sadar atau tidak sadar saya ucapkan. Ternyata hanya mimpi.
Bila saya mengingat mimpi itu saya jadi tersenyum. Kenapa dalam mimpi itu saya tidak berpikir untuk datang dan meminta kehalalan buah yang telah saya makan kepada si empunya seperti kisah teladan yang pernah saya baca. Siapa tahu dengan perbuatan itu, saya akan diperintahkan bekerja kepadanya beberapa bulan dan kemudian saya dijodohkan dengan putrinya yang cantik. Weleh…weleh……
Ternyata dalam mimpi itu, ketika berhadapan dengan kejadian tersebut, pikiran saya tidak berfungsi, atau mungkin dikalahkan dengan hati nurani saya. Seandainya hati nurani saya bisa berperan terus sebagai kendali setiap perbuatan saya. Bukankah hati itu bisa dimintakan fatwa mengenai baik atau buruknya suatu perbuatan?
Kira-kira setahun yang lalu, salah seorang teman saya bercerita tentang musibah yang menimpanya. Tanpa kesengajaan, dia telah menghilangkan sejumlah uang yang diamanahkan kepadanya. Lalu dia bertanya kepada saya, “Di laciku ada uang ‘enggak jelas’, apa boleh aku pakai uang itu untuk mengganti uang yang hilang. Nanti aku akan ganti dengan uang sendiri. Gimana?”
“Uang itu jangan digunakan untuk kepentingan pribadi. Kalau memang perlu segera, saya baru saja dapat rezeki, walaupun tidak banyak. Saya bisa pinjamkan, gimana?” begitu jawab saya, entah saat itu hati saya atau pikiran saya yang lebih kuat perannya. Tapi di sisi lain, saya membayangkan bila saya yang berada dalam posisinya, mungkin saya akan menggunakan uang itu dulu. Tapi untunglah saya tidak berada dalam posisinya dan saya memberikan jawaban yang terbaik yang saya punya.
Ketika saya mengetik tulisan ini, saya teringat pendapat teman saya, bahwa untuk menanyakan jawaban ke hati juga harus diperlukan ilmu. Pendapat teman saya itu mungkin ada benarnya, karena dengan ilmu akan menambah tingkat keyakinan akan jawaban yang diperoleh.
Dulu, di kantor sekolah tempat saya mengajar, ada istilah “Sabtu ceria”, di mana setiap hari sabtu kami akan mendapatkan sejumlah uang di luar dari gaji dan tunjangan yang saya terima. Asal-muasal dari mana sumber uang itu belumlah saya ketahui. Hingga suatu saat, saya diundang dalam sebuah rapat yang salah satu pembahasannya adalah pengelolaan dana yang diperoleh dari sumber selain gaji dan tunjangan. Dari situlah semuanya berasal, uang yang kami terima di “sabtu ceria”, bahkan untuk sekedar air minumdan jajanan ketika isrirahat, biayanya yang dikeluarkan dari sumber itu juga.
Alhamdulillah, sekarang tak lagi saya jumpai “sabtu ceria” dan untuk membeli air minum serta jajanan, saya dan teman-teman patungan setiap bulan setelah menerima gaji. Sekali lagi Alhamdulillah……
Wallahu a’lam bishshowab.